Bulan Ramadan di Indonesia selalu identik dengan tradisi buka puasa bersama atau yang lebih dikenal dengan istilah bukber. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena sosial ini mengalami pergeseran makna akibat kuatnya pengaruh media sosial, yang memicu munculnya perasaan FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Keinginan untuk selalu hadir dalam setiap undangan bukan lagi didasari oleh semangat silaturahmi semata, melainkan didorong oleh rasa takut merasa tertinggal atau tidak dianggap dalam lingkaran sosial tertentu. Hal ini menciptakan tekanan psikologis tersendiri di tengah bulan yang seharusnya menjadi momen untuk pengendalian diri dan refleksi batin.
Secara sosiologis, FOMO dalam konteks bukber sering kali terlihat dari padatnya jadwal seseorang yang hampir setiap hari dipenuhi dengan agenda pertemuan di berbagai tempat berbeda. Unggahan foto keceriaan di meja makan yang memenuhi lini masa media sosial menjadi pemicu utama bagi orang lain untuk ikut melakukan hal yang sama. Ada semacam standar kebahagiaan semu yang diciptakan melalui layar ponsel, di mana eksistensi seseorang seolah diukur dari seberapa sering mereka terlibat dalam kegiatan komunal tersebut. Akibatnya, esensi ibadah puasa yang menekankan pada kesederhanaan sering kali terabaikan demi mengejar pengakuan visual di dunia maya.
Dampak dari budaya FOMO ini tidak hanya menyasar aspek psikologis, tetapi juga finansial. Banyak individu yang memaksakan diri untuk hadir di restoran-restoran mahal demi menjaga citra diri, meskipun kondisi keuangan mereka sebenarnya sedang tidak mendukung. Pengeluaran yang membengkak selama Ramadan sering kali bersumber dari keinginan untuk tetap “eksis” dalam setiap tren pertemuan yang sedang berlangsung. Jika tidak dikelola dengan bijak, tekanan sosial ini dapat menyebabkan stres dan rasa cemas yang justru mengganggu kekhusyukan ibadah. Seseorang menjadi lebih fokus pada bagaimana cara mendokumentasikan momen daripada menikmati kehangatan interaksi yang tulus dengan sesama teman atau keluarga.
Namun, di balik tantangan tersebut, fenomena ini juga bisa menjadi cermin bagi kita untuk kembali mengevaluasi niat. Penting bagi setiap individu untuk menyadari bahwa tidak semua undangan harus dihadiri dan tidak semua momen harus dipamerkan. Melawan arus FOMO berarti berani mengambil keputusan untuk memprioritaskan kualitas pertemuan daripada kuantitas.
