Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan tradisi tutur, namun saat ini kita perlu kembali Menelisik Sastra Lisan Nusantara sebagai bagian dari identitas bangsa yang mulai terlupakan. Sastra lisan adalah segala bentuk ekspresi budaya yang disampaikan dari mulut ke mulut secara turun-temurun, mulai dari dongeng, legenda, pantun, hingga mantra-mantra adat. Kekayaan ini merupakan sumber literasi asli yang mengandung kearifan lokal, sejarah tersembunyi, dan nilai-nilai moral yang sangat kuat. Sayangnya, seiring dengan pudarnya tradisi berkumpul di komunitas desa dan dominasi media digital, keberadaan tradisi lisan ini berada dalam ancaman kepunahan yang sangat nyata.
Ketika kita mulai Menelisik Sastra Lisan Nusantara, kita akan menemukan betapa beragamnya pola pikir nenek moyang kita dalam memahami alam semesta. Di setiap daerah, terdapat cerita-cerita yang menjelaskan asal-usul sebuah tempat atau etika dalam berinteraksi dengan sesama makhluk hidup. Literasi lisan ini bukan hanya sekadar hiburan sebelum tidur bagi anak-anak, melainkan sebuah dokumen sosial yang tidak tertulis. Tanpa adanya upaya dokumentasi yang serius, banyak sekali pengetahuan tradisional tentang pengobatan alami, navigasi bintang, dan filosofi hidup yang akan hilang begitu saja saat para penutur aslinya atau “orang tua” di desa-desa meninggal dunia.
Proses Menelisik Sastra Lisan Nusantara juga membuka tabir mengenai betapa indahnya struktur bahasa daerah yang digunakan dalam karya-karya tersebut. Pantun Melayu, misalnya, menunjukkan ketangkasan berpikir dan kehalusan budi pekerti dalam berkomunikasi. Sementara itu, epos-epos panjang dari wilayah timur Indonesia menceritakan ketangguhan manusia dalam menghadapi tantangan alam. Kehilangan sastra lisan berarti kita kehilangan kunci untuk memahami bagaimana peradaban kita terbentuk. Era digital seharusnya menjadi alat untuk melestarikan, bukan justru menjadi penyebab utama masyarakat meninggalkan kebiasaan bertutur yang sudah ada sejak ribuan tahun silam.
Tantangan dalam upaya Menelisik Sastra Lisan Nusantara saat ini adalah bagaimana menarik minat generasi muda agar mau mendengarkan dan mempelajari kembali cerita-cerita tersebut. Kurikulum pendidikan perlu memberikan ruang lebih bagi sastra daerah dalam bentuk yang lebih menarik, seperti adaptasi ke dalam novel grafis, animasi, atau audio visual. Selain itu, para peneliti dan akademisi harus bergerak lebih cepat untuk merekam dan mentranskrip setiap bait lisan yang masih tersisa di pelosok negeri. Literasi bukan hanya tentang apa yang tertulis di atas kertas, tetapi juga tentang apa yang bergema dalam ingatan kolektif sebuah masyarakat.
