Krisis iklim dan isu lingkungan telah mendorong banyak inovasi, termasuk munculnya startup yang berfokus pada teknologi hijau atau green tech. Tren ini tidak hanya mencerminkan kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang menjanjikan. Potensi startup di sektor ini sangat besar, karena mereka tidak hanya menawarkan solusi untuk masalah lingkungan, tetapi juga membangun model bisnis yang menguntungkan. Menggabungkan semangat kewirausahaan dengan misi sosial-lingkungan, startup green tech membuktikan bahwa berbisnis dan menyelamatkan bumi dapat berjalan beriringan.
Pada 18 Oktober 2025, dalam sebuah forum investasi yang diselenggarakan di Jakarta, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan startup di sektor ini melalui insentif fiskal dan program mentorship. Sektor-sektor yang paling banyak diincar oleh startup green tech di Indonesia termasuk energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan pertanian berkelanjutan. Contohnya, sebuah startup yang fokus pada energi surya di Bandung berhasil mengembangkan panel surya portabel yang terjangkau untuk rumah tangga, mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa ada permintaan pasar yang kuat untuk produk-produk ramah lingkungan.
Selain energi, potensi startup di bidang pengelolaan limbah juga sangat menjanjikan. Mengingat volume sampah yang terus meningkat di perkotaan, startup yang menawarkan solusi daur ulang inovatif atau platform digital untuk menghubungkan produsen sampah dengan pengolah limbah memiliki peran krusial. Pada 22 November 2025, sebuah startup yang berbasis di Surabaya meluncurkan aplikasi yang memungkinkan warga untuk menjual sampah anorganik mereka langsung kepada pengepul dengan harga yang transparan. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan tingkat daur ulang, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan meminimalkan sampah yang berakhir di TPA.
Penerapan teknologi dalam pertanian berkelanjutan juga menjadi area lain di mana potensi startup sangat menonjol. Dengan menggunakan teknologi seperti sensor tanah, analitik data, dan pertanian vertikal, startup dapat membantu petani meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, mengurangi jejak karbon, serta meningkatkan hasil panen. Dr. Ahmad Riyadi, seorang pakar agribisnis dari Universitas Indonesia, dalam sebuah kuliah umum pada 5 Desember 2025, menyatakan bahwa teknologi hijau dalam pertanian adalah kunci untuk mencapai ketahanan pangan sambil tetap menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, investasi pada startup agritech adalah investasi pada masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, potensi startup green tech bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam cara kita memandang bisnis dan dampaknya terhadap planet. Dengan inovasi, dukungan pemerintah, dan kesadaran masyarakat yang terus meningkat, startup ini akan menjadi motor penggerak utama dalam membangun ekonomi yang tidak hanya kuat, tetapi juga bertanggung jawab.
