Film Popeye (1980) yang disutradarai oleh Robert Altman dan dibintangi oleh Robin Williams sebagai karakter utama, memicu reaksi beragam di kalangan penonton Indonesia. Berbeda dengan kartun aslinya yang penuh aksi cepat, versi film ini disajikan dalam format musikal yang sureal dan lambat. Adaptasi ini menimbulkan perdebatan, terutama bagi penggemar kartun yang sudah terbiasa dengan gaya animasi tradisional yang lebih lugas dan komedi slapstik.
Meskipun mendapat kritik global atas nada film yang unik dan tidak konvensional, penampilan Robin Williams sebagai Popeye patut diacungi jempol. Dengan riasan prostetik yang rumit, Williams berhasil menangkap fisik canggung dan gumaman khas sang pelaut. Aktingnya yang karismatik dan enerjik memberikan nyawa baru pada karakter komik tersebut, menunjukkan kemampuan aktingnya yang transformatif di awal karier.
Bagi penonton Indonesia, film ini tayang di era di mana blockbuster Hollywood baru mulai membanjiri bioskop. Ekspektasi tinggi terhadap film adaptasi kartun sering kali berbenturan dengan gaya auteur Robert Altman yang eksperimental. Banyak yang merasa vibe musikalnya terlalu asing, membuat beberapa penonton lebih memilih kesederhanaan dan kepastian alur cerita dalam versi kartun yang sudah mereka kenal.
Robin Williams menunjukkan Potensi Tersembunyi komedinya, meskipun ia harus berakting dengan kendala fisik dan vokal karakter Popeye. Penampilan Shelley Duvall sebagai Olive Oyl juga sangat ikonik, ia berhasil menangkap postur tubuh yang kurus dan suara melengking dari karakter komik tersebut. Chemistry unik mereka menjadi salah satu elemen penyelamat yang dikenang dari film tersebut hingga hari ini.
Meskipun film ini tidak menjadi hit besar secara kritik, ia berhasil mencetak pendapatan dua kali lipat dari anggarannya. Di Indonesia, film ini sering diputar ulang di saluran televisi pada dekade 90-an. Pemutaran ulang ini justru membangun basis penggemar baru yang lebih menghargai aspek nostalgia dan uniknya Desa Sweethaven yang sengaja dibangun di Malta.
Keberanian film ini untuk tampil beda juga patut dihargai. Versi Robin Williams ini tidak takut untuk menjadi aneh, merayakan kekhasan dunia komik E. C. Segar secara literal, bukan sekadar mengikuti tren live-action saat itu. Film ini menjadi bukti awal fleksibilitas akting Williams dalam membawakan karakter yang sangat fisik dan larger-than-life.
Reaksi penonton Indonesia pada akhirnya terbelah: satu sisi merayakan kehadiran film adaptasi dengan bintang ternama, sementara sisi lain merasa kecewa karena film tersebut tidak mereplikasi energi kartun. Namun, seiring waktu, film Popeye 1980 ini mendapatkan status kultus di kalangan penggemar film aneh dan musikal yang tidak biasa.
Pada akhirnya, penampilan Robin Williams sebagai Popeye memberikan warisan yang bertahan lama. Film ini bukan hanya catatan kaki dalam karier superstar ini, tetapi juga sebuah contoh adaptasi komik yang berani mengambil risiko artistik. Ia tetap menjadi bagian penting dari sejarah adaptasi karakter kartun di layar lebar global.
